'Dunia Sunyi' yang Tak Lagi Sunyi

Sumber: Ron Watkins, Blue Water Photo  
www.underwaterphotography.com

Dalam dokumenter Perancis tahun 1956, oseanografer Jacques-Yves Cousteau dan Louis Malle menggambarkan kehidupan bawah laut sebagai dunia misterius dengan kehidupan yang tenang. Dokumenter yang memenangkan Academy Award untuk kategori Best Documentary Feature tersebut berjudul “Le Monde du Silence”, yang berarti “Dunia yang Sunyi”. 61 tahun setelah dokumenter tersebut dirilis, Christophe Haubursin, seorang videografer media Amerika VOX, menyelam untuk pertama kalinya. Apa yang ditangkap oleh telinga Christophe begitu ia turun beberapa meter merupakan sesuatu yang tak ia sangka. Ternyata dunia bawah laut memiliki musiknya sendiri. Komposisi yang kaya antara suara ikan yang bermain di antara terumbu karang dan gurita yang berenang menciptakan sebuah harmoni. Namun suara-suara itu tak seberapa jelas dibanding bising mesin kapal yang didengar Christophe. Kehidupan bawah laut yang disebut-sebut sebagai dunia misterius nan sunyi itu ternyata tak lagi sunyi. Dengungan mesin kapal yang nyaris tak pernah berhenti kini menjadi masalah besar di laut, mengancam kehidupan yang ada di dalamnya.
Makhluk hidup bawah laut memang memiliki ‘musik’ mereka sendiri. Ikan fugu mengeluarkan suara seperti oboe bernada rendah dengan menggerakan gelembung renangnya untuk menarik betina. Selain untuk berkembang biak, paus juga menggunakan suara berupa nyayian balada lambat untuk berkomunikasi satu sama lain. Hewan dengan kemampuan biosonar mengandalkan suara untuk bersosialisasi, mencari mangsa, dan menghindari predator.
Bagaimana cara sonar bekerja? Seekor hewan, layaknya kapal selam, mengirimkan sebuah desing suara, kemudian menunggu pantulan dari desing suara itu. Waktu yang dibutuhkan bagi desing suara untuk kembali menunjukkan seberapa jauh objek yang memantulkan suara tersebut.
Pendengaran bagi hewan-hewan ini sama vitalnya seperti penglihatan bagi manusia. Cahaya tidak bisa menembus jauh ke dalam laut, sehingga banyak hewan laut berevolusi untuk menggunakan suara sebagai indera utamanya. Partikel air yang jauh lebih padat dari udara, membuat suara bergerak lebih cepat dan jauh di dalam air. Kini, suara bising di lautan yang diproduksi oleh aktivitas manusia mengintervensi aktivitas hewan laut.

Bersaing dengan Aktivitas Manusia
Laporan yang dirilis WWF pada awal 2014 menyatakan polusi suara diduga kuat menjadi salah satu faktor banyaknya paus dan mamalia laut lainnya terdampar. Hasil autopsi WWF terhadap tujuh paus yang terdampar di Pantai Kepulauan Bahama menunjukkan bahwa paus-paus itu mengalami gangguan indera pendengaran. Catatan autopsi menunjukkan adanya pendarahan dekat telinga dan dalam cairan otak paus-paus tersebut.
Aimee Leslie, Global Cetacean and Marine Turtle Manager WWF, mengungkapkan bahwa ada bukti yang menunjukkan peningkatan kebisingan di seluruh perairan di dunia. Di area dengan tingkat aktivitas kapal yang tinggi, diperkirakan kebisingan lalu lintas kapal meningkat dua kalia lipat setiap dekadenya. Beberapa aktivitas kapal di laut lepas memproduksi suara di kisaran pendengaran paus, lumba-lumba, dan mamalia laut, yaitu 10 Hz-200 kHz. Akibatnya, suara ini saling tumpang tindih dengan suara mamalia laut sehingga membingungkan dan bahkan bisa berakibat fatal.
Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas polusi suara? Banyak aktivitas manusia yang menjadi penyumbang masalah kebisingan di laut, seperti pelayaran komersil, lalu lintas kapal berukuran besar, dan pelatihan militer. Namun aktivitas yang paling signifikan dalam masalah polusi suara di laut adalah eksplorasi minyak dan gas lepas pantai. Eksplorasi minyak dan gas menggunakan survei seismik untuk mencari titik di dasar laut yang memungkinkan pengeboran bahan bakar fosil. Kapal dengan 30-40 senapan udara yang meledak secara bersamaan bergerak kesana kemari di sebagian besar wilayah samudra. Suara senapan udara seismik nyaris sama kerasnya dengan sebuah jet saat lepas landas. Suara siesmik ini bisa terus berlanjut selama seminggu. Studi yang dilakukan oleh Nieukirk, Stafford, Mellinger, dan Dziak RP terhadap suara survei seismik antara 1999 dan 2009 menemukan bahwa suara senapan udara bisa terdengar hingga 2500 mil (setara dengan 4023 km) dari kapal survei itu sendiri. Di lokasi tertentu, suara ini terdengar selama 80% hari dalam kurun waktu lebih dari setahun.

Efek Bola Salju
Ken Ramirez, seorang behavioris dan biologis di Shedd Aquarium Chicago menyatakan bahwa saat sesuatu yang terduga terjadi, pola perilaku hewan ikut berubah. Hewan-hewan yang terpengaruh bisa pindah dari habitat mereka. Survei seismik begitu berdampak pada kehidupan laut, mengakibatkan pendegradasian ekosistem laut. Studi yang dilakukan Institute of Marine science di University of North Carolina menunjukkan kelompok ikan karang berkurang sebanyak 78% saat survei seismik.
Polusi suara bisa mengancam eksistensi hewan laut yang terancam punah. Laut yang tenang memungkinkan suara yang diproduksi paus bisa bergerak lebih jauh. Sebaliknya, laut yang bising menghalangi suara paus untuk bergerak jauh. Akibatnya, paus-paus ini sulit menemukan satu sama lain yang mungkin berada di ujung samudra lain. Padahal, suara sangat penting bagi paus mengingat populasinya yang terus menurun.
Susan Parks, seorang profesor biologi di Syracuse, merekam suara paus sikat sepanjang awal tahun 2000-an. Ketika suara ini ia bandingkan dengan audio yang direkam pada tahun 1956, Susan menyadari bahwa suara paus pada tahun 1956 lebih rendah dibandingkan rekaman audio miliknya. Ternyata, paus memproduksi frekuensi suara yang semakin tinggi untuk mengatasi suara kapal sehingga bisa didengar paus lain.
Di luar dari perpindahan habitat dan perubahan komunikasi, ahli menyatakan bahwa suara kapal mengakibatkan stres pada paus, yang dapat mengurangi kesuksesan perkembangbiakan paus. Stres tak hanya dapat mengakibatkan paus yang panik berenang ke perairan yang dangkal dan terdampar, tetapi juga mempengaruhi seluruh rantai makanan. Studi pada tahun 2017 menunjukkan bahwa terdapat dua hingga tiga kali lipat zooplankton mati saat survei seismik dilakukan. Larva krill, makanan utama paus, hancur total akibat aktivitas ini.

            Polusi suara menjadi ancaman serius bagi kehidupan laut. Pada tahun 2014, International Maritime Organization (IMO) mengadaptasi sebuah pedoman untuk mengurangi kebisingan kapal komersil dengan baling-baling peredam suara. Namun, pedoman ini belum diwajibkan. Lautan begitu luas dan besar, mencakup lebih dari 70% permukaan bumi. Hingga kini, kita manusia baru menjelajahi kurang dari 5% lautan. Mudah bagi kita untuk lupa bahwa apa yang kita lakukan di atas, turut mempengaruhi kehidupan yang berada di bawahnya. Seperti plastik, limbah, dan sampah, suara pun mencemari laut. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dalam menangani dampak aktivitas manusia dan melindungi ekosistem laut.


Sumber referensi:
https://www.youtube.com/watch?v=CrpkZkwTvu0&t=128s
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/07/130702_iptek_paus_biru
https://www.sciencenewsforstudents.org/article/underwater-racket
http://www.mongabay.co.id/2014/02/25/kebisingan-laut-berpengaruh-buruk-bagi-paus-dan-lumba-lumba/
http://uk.whales.org/issues/pollution

Comments